Luffy Diagonal Resize Mang Jaya Urang Sunda

Laman

Selasa, 09 September 2014

Allah Hanya Melarang Berjudi, Tetapi Tidak Berspekulasi

Budi Hikmat
31 Jan 2012 | 08:14
It ain't what a man don't know as makes him a fool, but what he does know as ain't so
-- Josh Billings

Bila tidak ada kegiatan di luar rumah, setiap malam minggu biasanya saya mengajak istri dan kedua anak kami bermain gaple. Ya itu kartu domino. Saya melarang anak-anak bermain dadu. Mengapa?

Sebab sedari dini, saya ingin mengajarkan kepada anak-anak bahwa investasi itu lebih terkait dengan spekulasi bukan judi. Spekulasi dan judi berbeda. Sebab terkait dengan penguasaan informasi dan penerapan strategi. Dalam bermain gaple, sangat dibutuhkan kecakapan membaca pola. Lalu membuat strategi agar bisa menang. Terlebih bila berpasangan. Dengan sering latihan, seorang bisa jadi jagoan. Seperti membaca isyarat baik dari kawan maupun lawan.

Saya juga baru suka main gaple sewaktu kuliah dan tinggal di asrama UI Daksinapati Rawamangun. Saya begitu terpesona melihat kecanggihan teman-teman (sebagian besar dari Padang dan Medan) yang sangat canggih membaca kartu saya. Disaat itu saya belajar prinsip bermain gaple, seperti Jangan menemani musuh dan memusuhi teman, paksa lawan makan ekor sendiri, fokus menang bukan hanya melewati musuh.

Ya ndak sombong, dalam kompetisi 17 Agutusan, tim saya menang kejuaraan gaple se Bahana Group (Terlalu kecil, ndak ada gunanya nyombong:))

Saya senang sebab paling tidak penerapan prinsip diatas terlihat dari kemajuan ‘kecakapan’ anak dan istri bermain gaple. Bahkan saya nilai, anak perempuan saya, Dina, lebih agresif dan persisten ketimbang kakaknya, Raka, apalagi ibu mereka, Adelina. Saya selalu merasa tertekan bila posisi saya berada setelah Dina yang kerap membuat saya tidak bisa jalan.

Dadu berbeda dengan gaple. Probabilita keluar setiap angka bersifat random (Saya pernah mengajar Statistika di FEUI selama lima tahun). Baik pada pelemparan pertama maupun setelahnya. Baik bila saya sedang bete maupun senang. Baik ketika Dina sedang mens maupun sedang pake celana jeans. Baik ketika Raka punya jerawat maupun saat bokek. Baik ketika Adelina baru terima transfer gajian, maupun selesai menyiapkan makanan. Pokoknya, kita tidak pernah bisa membuat strategi agar kemungkinan menang bisa ditingkatkan.

Ini sangat berbeda dengan gaple. Kalau angka 6/3 sudah keluar, maka berkuranglah probabilita keluar angka 6 dan 3. Anda tahu kan, setiap angka dadu mulai dari kosong hingga enam jumlahnya sama, yakni tujuh. Dengan demikian, kita bisa mengatur strategi agar lawan bisa dikalahkan.

Kecakapan untuk mengubah data menjadi informasi yang diterjemahkan dalam bentuk strategi menjadi penentu keberhasilan. Prinsip yang sama berlaku dalam investasi.

Selama sepuluh tahun terakhir tidak satu sen uang saya disimpan dalam bentuk deposito. Setiap ada uang ‘lebih’ saya investasikan di dalam reksadana saham, properti, kebun hingga gadget. Sebab saya yakin suku bunga deposito akan tetap rendah. Mengapa?

Ketika mengolah data moneter, saya cermati bank mengalami kelebihan likuiditas yang luar biasa yang disimpan di dalam SBI. Kelebihan likuiditas itu akan membuat bank relatif kurang membutuhkan dana masyarakat. Itu sebabnya bunga deposito tetap rendah, lebih rendah ketimbang SBI dan inflasi. Hal terjadi karena masyarakat Indonesia masih saving society, belum investing society.

Melalui majalah investor saya menulis “Musim Gugur Bunga yang Panjang” untuk menginformasikan bahwa suku bunga tetap rendah. Kenyataaannya lebih lama dari yang saya duga karena bank sentral AS, Jepang dan Eropa terus menggelontorkan likuiditas.

Kita tahu musuh utama investasi selain kehilangan pokok adalah penurunan daya beli akibat inflasi. Jadi apa rasionalnya menyimpan dana di dalam deposito. Mengapa tidak di obligasi negara yang jelas risiko gagal bayarnya lebih rendah ketimbang deposito dan memberikan tingkat kupon lebih tinggi dari inflasi.

Saya memang bukan ulama (mesti almarhum Kakek saya ternyata pahlawan nasional dan pendiri pasantren yang cukup besar di Tasikmalaya). Namun berdasarkan berbagai bacaan yang saya pahami, saya berkeyakinan Tuhan hanya melarang berjudi, tetapi tidak berspekulasi. Anda boleh tidak sepakat dengan keyakinan saya ini.

Bila merujuk kepada Al Quran, banyak anjuran untuk menjadi man of reason (ulil albab) yang kegiatan rutinnya adalah mengingat Allah (dzikir),  memikirkan penciptaan langit dan bumi (taffakur), serta banyak memanjatkan doa (QS 3: 190-191).

Pernahkah Anda mendengar riwayat ketika kaum Muslimin bersedih mendengar berita bangsa Romawi yang banyak menganut ajaran Kristen baru saja dikalahkan oleh Persia. Mereka bersedih sebab Kristen dan Muslim sesungguhnya bersaudara.

Kesedihan itu mereda ketika turun wahyu yang merupakan bagian awal Surah Ar Rum yang menubuatkan bahwa Romawi akan menang kembali dalam waktu yang tidak lama. Masalahnya, siapa yang saat itu percaya kepada ‘informasi’ yang diwahyukan itu?

Adalah sahabat Nabi yang bernama Abu Bakar yang termasuk sedikit orang yang percaya atas “ramalan” tersebut. Bahkan Beliau sering sekali mengungkapkan keyakinan akan ramalan itu. Akibatnya beliau sering terlibat perdebatan dan diperolok oleh kaum yang tidak beriman saat itu. Hal ini memaksa Abu Bakar untuk mengajak mereka bertaruh dengan menggunakan sejumlah hewan ternak yang dia miliki.

Yang menarik justru setelah memberi laporan kepada Nabi Muhammad SAW, malah Nabi meminta Abu Bakar untuk meningkatkan kadar taruhan.

Kebenaran wahyu terbukti, Bangsa Romawi memenangkan pertempuran besar atas Persia di suatu tempat yang sangat mirip dengan deskripsi wahyu. Mendengar berita itu, kaum beriman berbahagia. Terlebih Abu Bakar yang menang taruhan besar karena memanfaatkan informasi Tuhan yang diwahyukan melalui Nabi.

Jadi mengapa kita tidak berikhtiar mencari dan mengkaji data menjadi informasi yang dapat dimanfaatkan sebagai peluang investasi. Data tersebut begitu banyak tersebar yang hanya tersembunyi bagi orang buta.

Misalnya data statistik demografi Indonesia yang menunjukkan proporsi penduduk usia di bawah 20 tahun berkisar 37%. Kelompok ini disebut sebagai spender group. Proporsi mereka sangat besar yang pastinya melandasi permintaan terhadap aneka barang dan jasa konsumsi. Lihat saja maraknya penjualan pizza, sosis, frozen yogurt, pulsa telepon hingga deodorant. Silakan baca tulisan saya mengenai "Jangan Selekan Faktor Demografi"

Dengan tingkat upah yang lebih rendah dibanding negara berkembang seperti BRIC (Brazil, Rusia, India dan China) dan berkat pasar domestik yang tidak menguat, maka tidak heran bila Indonesia menjadi negara tujuan Foreign Direct Investment (FDI). Mengapa tidak berpikir untuk berinvestasi dengan membeli saham industrial estate?

Sekarang coba renungkan pernyataan humoris Josh Billing diatas. Sudah tahu kok tidak mau. Anak saya Raka akhirnya paham bila dia punya balak enam, dia tidak akan berani ngajak gaple lawan yang punya satu kartu. Pasti kalah, lha wong balak enam yang paling besar:)

Pencermatan terhadap anecdotal evidence yang dianggap sepele acap kali memberikan keuntungan investasi yang lumayan. Silakan baca buku “If It’s Raining in Brazil, Buy Starbuck” yang ditulis Peter Navarro. Meski sudah ditopang manajemen yang profesional dan fundamental keuangan yang kokoh, keuntungan Starbuck juga ditentukan harga kopi yang banyak diimpor dari Brazil. Investor yang cerdik akan mencermati perubahan iklim di Brazil yang sangat mempengaruhi hasil panen kopi. Hujan membawa berkah, hasil panen kopi Brazil melimpah. Akibatnya, dengan harga beli yang lebih rendah, margin keuntungan Starbuck membuncah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar